peracik kata
14.14.00
0 Comments
saya pernah melewati masa-masa setiap malam hanya nangis dan tidak bebruat apa-apa. setiap pagi,siang, hingga sore tidur karena semalaman lelah menangis. namun saya sadar, bahwa asa, mimpi, dan tujuan saya harus segera direalisasikan.
sudah setahun lalu saya memikul gelar dan nama baru. tambahan S.Farm. di bagian akhir nama yang tentu saja bukan akhir dari segalanya. ups and downs selama mengerjakan tugas akhir S1 yang pada saat itu ingin membuat saya menyerah. namun jika saya menyerah, keadaan akan bertambah buruk. sia-sia apa yang telah dilakukan selama lebih kurang 3 tahun beberapa bulan itu.
hal pertama adalah masalah akademis. beberapa kali saya harus mengganti judul. bukan hanya judul, namun isi skripsi. sekitar 5 atau 6 folder calon skripsi yang sudah sampai pada bab 3 dan harus dirombak banyak karena penyesuaian dengan lab yang akan dipakai, penyesuaian dengan keinginan dosen proyek ((pada saat itu ikut proyek)) ataupun karena mengajukan dosbing tapi selalu ditolak.
untuk ai mata yang selalu mengalir di tiap sujud panjang, saat itu saya membutuhkan dosen yang bisa sesuai dengan yang saya inginkan karena beberapa hal, namun tetap saja saya tidak mendapatkan dosen pembimbing jua. salah satu alasannya saat saya menanyakan mengapa buku saya belum di-acc adalah: buku saya tidak ada di meja registrasi. aneh. padahal seharian saya melihat buku itu dan menunggui pengumuman nama itu terpampang.
di luar konteks akademis, ada hal lain yang membuat air mata selalu meraung-raung dan fisik yang semakin melemah: kehilangan salah satu support system sekunder. menurut saya, support system primer tetaplah kedua orangtua. karena merekalah yang selalu mendidik saya untuk berdamai pada diri sendiri, terlebih pada keadaan.
kehilangan hadir pada saat kita tidak siap untuk melepaskan
















.jpg)