Telah lama aku merindukan hujan
sama seperti aku merindukanmu
sejak awal musim kemarau panjang
hingga kini hujan datang
aku masih merindukanmu
masih menantimu di tempat yang sama
dengan harapan yang semakin meruak
dengan rasa yang semakin membara
aku merindukan hujan
tak ayal keluar dari mataku sendiri
mata hitam berkantung penuh tanda tanya
semakin kuat bergelayut dalam lembar hepar
di tiap cuplikan ganglion
di tiap bagian neurotransmitter
entahlah
mungkin kalut
mungkin saja neuron terlalu lelah dan aus
otot mata telah tak seelastis dulu lagi
degub jantung lemas
tak nyaring seperti dulu
apakah ini?
apakah ini?
apakah ini?
aku hanya ingin menangis
diam-diam
dalam hati saja
biar aku saja yang tahu
sebab, jika tercurah air mata
akan ada orang yang mungkin mengulurkan tissue padaku
dan mungkin itu bukan kamu
aku ingin nangis sendiri saja
diam, sakit, dan tersiksa
hanya untukmu
air mata untukmu
walaupun kau tak akan mau tahu
dan tak akan pernah tau
bahwa
hujan ini hanya untukmu
kembalilah
bawakan aku pelangi
setelah merasakan sakitnya hujan dalam hati
Yogyakarta, 10 Oktober 2012
dalam pengharapan terbesarku
Wallahualam bisawab
http://risaumari.blogspot.com
Jumat, 03 Mei 2013
Tetes Bulir yang Kembali Jatuh
by
peracik kata
on
14.03.00
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar