peracik kata
05.53.00
0 Comments
Kamis, 26 Juli 2018
Kamis, 01 Maret 2018
peracik kata
20.01.00
0 Comments
di tengah badai salju, serpihan kenangan tentangmu kembali terbuka
ingatan-ingatan itu dengan sukarela menghancurkan isi kepalaku yang camuh
terima kasih untuk selalu memberi
terima kasih untuk selalu menerima
hingga akhirnya aku tak kuasa untuk mengucapkan itu semua
sebab, biarlah ini kan menjadi ceritaku pada Sang Maha Cinta
aku membiarkan kenangan sekaligus luka itu kembali bersemi
untuk aku nikmati sendirian dalam gigilnya malam
jika esok akan datang lagi menjadi misteri
aku harap kamu selalu menghadirkan hangat untukku: walau dalam pilu
peracik kata
20.01.00
0 Comments
di tengah badai salju, serpihan kenangan tentangmu kembali terbuka
ingatan-ingatan itu dengan sukarela menghancurkan isi kepalaku yang camuh
terima kasih untuk selalu memberi
terima kasih untuk selalu menerima
sebab, biarlah ini kan menjadi ceritaku pada Sang Maha Cinta
peracik kata
19.54.00
0 Comments
peracik kata
19.01.00
0 Comments
if you can say a goodbye for everyone in your special life, another hello just one step ahead before them. so, watch your step than!
peracik kata
19.00.00
0 Comments
jika semua hal sesuai dengan keinginan kita, maka tidak akan pernah tersebut pertemuan baru yang mewajibkan kita untuk memilih lupa. perksnalan dengan orang baru adalah sebuah pilihan. satu dari sekian banyak pilihan yang menyadarkan kita bahwa tidak semua apa yang diharapkan akan menjadi kenyataan. pilihan yang membuat kita lebih sadar pada fakta keinginan kita akan berbanding terbalik dengan kenyataan. tidak satu dua kali. mungkin sepuluh, dua belas, atau delapan puluh persennya.
Kamis, 02 November 2017
dan entah bagaimana, sebuah pertemuan itu bisa menyatukan saya dan kamu yang tengah terseok dan enggan untuk jatuh. tidak kuat melangkah, namun enggan untuk berhenti. lalu saya dan kamu dipertemukan dalam sebuah cerita yang menyatukan sebuah tujuan dalam hidup: Sahabat Beasiswa Chapter Yogyakarta
entah bagaimana lagi. aku kini mendapati diriku dengan mata yang nanar. tak kukenali lagi wajah yang tergambar di cermin. penuh air mata dan rindu yang memburu. dalam ribuan peluk yang terlewatkan, aku hanya bisa mengirimimu Al-Fatihah. aku hanya terbaring. di antara gulungan tisu sisa kemarin, puisi-puisi yang telah usang, dan jarak yang kini tak lagi bisa kugapai. bahagia di sana Bie :)) sudah 21 hari aja yaa bie. aku tahu, sesakit apapun aku kehilanganmu, kau tetap ingin melihatku bahagia, kan? seperti hari-hari lainnya. kau hanya diam, lalu membiarkan wajahku terbenam dalam pelukan yang tentu saja selalu menenangkan. i miss you so badly :"))
Rabu, 01 November 2017
peracik kata
23.54.00
0 Comments
di balik kesibukan yang hingga membuatnya benar-benar sibuk, ada luka yang sedang ia obati sendiri. ada tangis yang membendung dalam tawanya dan bahagianya untuk orang lain. ada masalah pelik yang berhasil ia selimuti di antara semangatnya. sangat jauh berbeda dengan teman-temannya yang pandai menderai air mata. ia hanya ingin menunjukkan bahwa dunia begitu lunak dan penuh kasih pada dirinya. barang kali, ia memiliki seribu peri yang ada di hati dan pikirannya. membuatnya selalu menikmati setiap perih dan kehilangan yang ia miliki. dulu, aku ingat sekali dulu. ia tak pernah sedikit pun membenci atas luka yang diberikan Tuhan. ia menikmati luka berdarah yang menggerogoti tubuhnya. ia mengusap air mata dan peluhnya sendiri. mungkin dia sudah mengerti, bahwa sedikit cobaan itu akan menghantarkannya pada sebuah kehilangan yang begitu besar. tapi entah. nanti, esok, atau itu tak pernah terjadi padanya.
Kamis, 26 Oktober 2017
peracik kata
10.29.00
0 Comments
kepada Trissan,
aku memahami bahwa hidup adalah tentang kehilangan
ia akan datang silih berganti
namun laiknya perpisahan, kebencian akan diri sendiri tak pernah reda
mengutuki nasib, berbicara pada sepi, berkawan dengan pekatnya malam
aku tahu, cepat atau lambat kita akan mendapati kehilangan
entah karena meninggalkan, ataupun karena ditinggalkan
kita laiknya dua luka yang saling mengobati
dua jarak yang saling merindui
hingga aku tersadar, bahwa semua itu hanya tinggal sepi
kepada Trissan,
kita saling memilih bukan hanya sebagai persinggahan
namun menyiapkan pertemuan-pertemuan tak terlupakan
kini kita terbiasa akan perpisahan
meski aku benar-benar tak pernah siap akan kehilangan
aku memahami bahwa hidup adalah tentang kehilangan
ia akan datang silih berganti
namun laiknya perpisahan, kebencian akan diri sendiri tak pernah reda
mengutuki nasib, berbicara pada sepi, berkawan dengan pekatnya malam
aku tahu, cepat atau lambat kita akan mendapati kehilangan
entah karena meninggalkan, ataupun karena ditinggalkan
kita laiknya dua luka yang saling mengobati
dua jarak yang saling merindui
hingga aku tersadar, bahwa semua itu hanya tinggal sepi
kepada Trissan,
kita saling memilih bukan hanya sebagai persinggahan
namun menyiapkan pertemuan-pertemuan tak terlupakan
kini kita terbiasa akan perpisahan
meski aku benar-benar tak pernah siap akan kehilangan
peracik kata
10.25.00
0 Comments
ketidakpastian adalah satu-satunya hal yang dimiliki waktu. percumbuanmu di tiap sepertiga malam diam-diam aku aamiinkan. syukur di tiap kekecewaan, aku pun demikian. sebab, pada pujian ke sekian pada Tuhanku, diam-diam kudapati diriku yang jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa secara egois kembali kumiliki.
peracik kata
10.23.00
0 Comments
tiap penyesalan akan hadir di akhir cerita. bintang hanya dapat bersinar dalam tuanya malam. sedang apabila langit masih perawan, tak ada yang peduli akan bintang. ia dengan mudah terbiaskan. kecewa, sesal, air mata diciptakan untuk memulai suatu perjalanan baru yang tak kalah seru. percayalah, dan tetap berjuang!
peracik kata
10.19.00
0 Comments
bulan menyesali kebodohannya selama ini. ia baru menyadari bahwasannya matahari dengan sukarela senantiasa memberi hangat dan cahayanya pada bulan. namun ia terlalu angkuh untuk mengakui bahwa ia akan kehilangan hidupnya tanpa adanya kasih sang matahari.
peracik kata
10.18.00
0 Comments
aku tak ayal adalah seorang pecundang. menyebut namamu saja sudah gemetar. hanya berani memandangimu lamit-lamit dari kejauhan. tapi, di hadapan Tuhanku, namamu yang paling gagah kuikrarkan. antara sebuah harap - dan juga kemustahilan.
Kamis, 19 Oktober 2017
Gastroesophageal Reflux Disease menjadi kenalanmu di sepuluh hari belakangan. saat kau dipeluk sepi, dibungkam rasa engah untuk sistem digestimu bekerja. R12 memacumu untuk membuat dada lebih bergejolak, memanas, dan LES sedang kehilangan kuasa untuk menahan. terlalu berat katanya. alveoli menangkap segala resah dan air mata R12 yang terpendam dalam kantung lambung. lalu, ia tak kuasa menahan air mata. jiwanya rapuh, badannya rusak. lalu ia tak henti menangis.
tidak ada yang akan kutangisi lagi, sebab saat ini keikhlasan dan penerimaan akan kepergian menjadi satu-satunya yang kita perlukan. cukup membahagiakan dan menjadi yang paling sulit dilepaskan: ucapan selamat dan semangat, ide cemerlang, motivasi, penyemangat dan pengukir rindu dalam hal apapun, penguat, pelindung, penyelamat, pencemburu, pemikat segala rasa dan tawa, penyungging senyum, dan selalu saja kau membuatku jatuh cinta padamu berulang kali. pada pemilik senyum yang sama. terlalu banyak hal indah yang kau ciptakan, walau hanya di satu tahun ini. aku benci.
aku tahu kamu melihat. mendengar segala desah nafas dan alunan rindu yang pelan-pelan aku bacakan. aku mendekap nisanmu. merangkul gambar atas dirimu. aku tahu, kau bahagia dan kau mendapati apa yang mungkin selama ini kamu tunggu: wanita yang selama ini aku harapkan, datang dan memberikan rasa cintanya yang tak kunjung reda. hingga saat ini: hari terakhirku melihat dirinya.
kau telah berlaku bijak terhadap diri sendiri: menyesuaikan kekuatan yang kau miliki dengan beban yang kamu ambil. kamu telah berhasil mendapatkan beasiswa PMDSU S2 dan S3, serta kau tetap saja membaktikan diri di tempat kerja. setiap malam memeluk rindu, di awal kalimat pembuka aku selalu menyapamu, "Hi Bi! hari ini kamu mau kasih tepuk tangan buat diri sendiri nggak?" satu pembuka sederhana, namun tetap bisa menjagamu dalam debar asa dan cita.
terima kasih telah menghidupkan aku yang sering layu. aku yang sering gugur, kering, dan meranggas. terima kasih untuk bahu yang rela menjadi sandaran kala letih, dada yang selalu tertumpah air mata, telinga yang tak pernah bosan mendengar, hati yang selalu membuatku jatuh cinta, dan lisan yang selalu menghidupkan.
el....
someone always be prettier
someone always be smarter
someone always be younger
but, they never be you!
thank you bie!
tenang di sana, selamat jalan.
doa, peluk cinta penuh kasih dariku.
ichak ichik :)
Kamis, 05 Oktober 2017
peracik kata
08.50.00
0 Comments
kau ingat?
di berbagai kedai kopi seringkali kita bercumbu dalam kata, mengenai sebuah mimpi, asa, ataupun duka yang penuh tanya
aku pernah,
menceritakan segala mimpi dan angan, bahkan untuk suatau hal yang terkesan tidak mungkin dimiliki
aku pernah,
membagi suka dukaku setiap waktu padamu
karena aku pikir hanya kau yang sudi untuk mendengarkannya
aku pernah,
menjadi salah satu harapan besarmu, kelak saat kau telah menapaki kota dengan bus-bus itu
karena aku pikir, saat itu memang aku pantas akan hal itu
aku pernah,
memberikan atas waktu di atas kesibukanku di tahun akhir
untuk membantumu mewujudkan impian besarmu itu
namun tahu kah kau?
bahwa beberapa mimpi yang pernah aku sebutkan itu muncul sebab dirimu.
di berbagai kedai kopi seringkali kita bercumbu dalam kata, mengenai sebuah mimpi, asa, ataupun duka yang penuh tanya
aku pernah,
menceritakan segala mimpi dan angan, bahkan untuk suatau hal yang terkesan tidak mungkin dimiliki
aku pernah,
membagi suka dukaku setiap waktu padamu
karena aku pikir hanya kau yang sudi untuk mendengarkannya
aku pernah,
menjadi salah satu harapan besarmu, kelak saat kau telah menapaki kota dengan bus-bus itu
karena aku pikir, saat itu memang aku pantas akan hal itu
aku pernah,
memberikan atas waktu di atas kesibukanku di tahun akhir
untuk membantumu mewujudkan impian besarmu itu
namun tahu kah kau?
bahwa beberapa mimpi yang pernah aku sebutkan itu muncul sebab dirimu.












