Jumat, 28 Juli 2023
Semantap-mantapnya aku berusaha merencanakan masa depan,
Pernah aku lalai untuk menempatkan satu ruang untuk ridha
Bahwa mungkin saja hari esok adalah hari yang terjadi di luar kehendak kita
Dan ap yang terjadi di luar perencanaan kita adalah yang terbaik bagi Allah
Senin, 31 Oktober 2022
Perspektif Kedua
Mungkin deratan pesan berantai kala itu
Ataupun puisi yang tak pernah selesai untuk aku tuliskan membuatmu sedikit tersipu
Katamu, kamu juga punya banyak hal yang lebih hebat dibanding aku
Hahaha aku tahu. Sejak dahulu. Tapi kamunya saja yang baru menyadari.
Katamu bertanya, bolehkah memulai 1 parafrase saja di halamanku ini
Tentu saja. Ini bukan hanya dunia milikku saja, tapi kau juga.
Setelah sekian malam yang gigil terlewati tanpa pelukmu,
Setelah banyak malam gelap sunyi tanpa hadirnya suaramu,
Nyatanya kini kau kembali
Meramu beberapa temu menjadi satu
Menghidupkan kembali malam dan angan yang pupus dan hilang
Ujarmu, kamu memperhatikanku dari jauh
“Masih kulihat sosokmu yang pekerja keras. Yang tak sedikitpun gentar untuk menyerah pada mimpimu.”
“Masih kulihat garis wajahmu yang tegas. Yang bisa memberi keputusan untuk semua anak-anakmu di tempat kerja.”
“Masih kulihat punggungmu yang tegap dan penuh tempaan.”
“Dan juga masih kulihat kasih sayangmu yang begitu tulus dan lembut. Yang banyak memberiku tangkupan doa. Yang tak pernah sekalipun merubah sikapmu kepadaku.”
Banyak lubang yang membuat kita jatuh.
Banyak luka yang menyayat hati dan juga pikiran kita.
Tapi di sudut kota Jogja saat itu, hiruk pikuk kepala menjadi satu.
Terdiam dan hening. Penuh bisu.
Dalam dekap hangat pelukmu.
Ya, itulah yang selama ini kurindukan.
Katamu, kamu masih hafal di mana letak kedai makanan terenak kesukaan kita
Di pojok jalanan yang ramai, ada sebuah kedai sup terenak
Di pinggir kota, kuah gulai selalu teringat, kan?
Di jalanan yang selalu wajib terlewati
Di tempat kita biasa mengukir mimpi
Di tempat kita pernah menangisi kesulitan hidup bersama
Meski entahlah, untuk siapa bahagiamu kelak
Di tempat kita selalu memusingkan hidup, menerima amorfati, dan berusaha saling menguatkan
Meski kini, kau mungkin jauh lebih kuat menopang lemahnya hidupmu
Dan di setiap sisi potongan kenangan Jogja
Katamu, kamu tak akan pernah lupa.
Rabu, 14 Oktober 2020
do the best, but dont forget to prepare the worst
tujuan hidup seringkali menjadi satu-satunya hal yang membuat aku tetap semangat menyambut pagi. tetap menerima lelah dan peluh, tetap mendengar hujatan, bahkan tetap menerima luka yang dikirimkan bertubi-tubi.
Kesibukan yang sengaja aku susun begitu padat membut aku sedikit melupakan tentang duka yang menyayat. Tentang pengkhianatan yang menerjang. Serta tentang perasaan yang memang tidak pernah disadarinya.
Di antara tumpukan janji yang dibuat, ia paham sekali tentang batasan mampunya ia. Tentang batasan lelahnya ia. Tentang raga yang ternyata memang butuh sedikit saja berjeda.
Barang sedetikpun, jeda yang muncul membuatnya melanglang buana. Pergi mengembala ke dalam pikirannya sendiri. Dia sangat membenci isi kepalanya. Hatinya berusaha selalu menerima, namun kepalanya selalu menolak. Harinya terlihat begitu bahagia, namun lukanya semakin lebar menganga
Minggu, 26 Juli 2020
Kemapanan Jiwa
Minggu, 05 Juli 2020
Terima kasih telah menghadirkan banyak sekali cinta dalam hidup. Menunjukkan bahwa kehidupan ini tidak melulu melihat sesuatu yang menyilaukan. Laiknya waktu di bumi, kita juga harus merasakan gelap agar tahu apa itu terang. Pun juga kita harus merasakan terang, agar tahu apa itu gelap.
Merasa dicintai secara penuh olehmu itu ternyata seluar biasa ini.
Senin, 30 Desember 2019
Jumat, 06 September 2019
"Iya ini mau ada acara di rumah."
"Loh acara apa?"
"Kirim doa untuk Mama."
Ternyata"jalani saja" membuat saya sudah berjalan sejauh ini. Tiga ratus enam puluh lima hari dengan berbagai macam cerita. Resign industri - gagal PNS - gagal kerja di Kalimantan - kerja di apotek - keterima ASDOS UMY - resign apotek - keterima ASDOS UAD - kuliah S2. Bukan saya yang sangathebat, tapi doa Mama dan Ayah saya yang menembus langit. Perjalanan ini sungguh memompa jantung. Melatih nafas, dan tentu saja menghabiskan banyak sekali air mata.
Jumat, 16 Agustus 2019
namun hancur sehancur-hancurnya
bagaimana bisa, kita jatuh sekaligus luka di dalam satu waktu?
nampaknya sering
berharap pada suatu masa
jatuh pada suatu bayang
yang sebenarnya dia tak pernah ingin bergerak mendekat
menoleh pun enggan
Kamis, 08 Agustus 2019
Selasa, 06 Agustus 2019
Senin, 03 Juni 2019
Salah satu alasan untuk pulang ke rumah adalah memanggil nostalgia-nostalgia yang mungkin akan terlupa. Waktu terbaik untuk pulang adalah saat Lebaran. Semua berkumpul. Semua berbahagia. Namun bukan untuk aku. Kita akan mengalami hal-hal yang sama berkali-kali yang lama kelamaan menjadi kebiasaan. Setelah kita berhasil melewati fase "pertama kali". Ketakutan pertama kali naik pesawat sendirian, ketakutan pertama kali naik bus tanpa ac sendirian, dan ketakutan lain. Dan tahun ini, adalah pertama kali yang tak akan terlupa dalam kehidupan. Pertama kali lebaran tidak ada ketupat. Bukan. Bukan ketupat saja yang aku rindukan. Ada suara gaduh pagi-pagi yang kurindu, aroma sambel goreng kesukaan yang sedang mendidih, bau daging rebus yang begitu empuk, hingga suara lembut yang kini tak lagi kudengar. Kerinduan-kerinduan itu tidak hanya terjadi sekali. Tidak. Itu akan terjadi selamanya dalam hidupku. Selamanya. Sepanjang hidupku.
Penguatan akan rasa dan hati yang ternyata terlaku rapuh sebenarnya dimulai sejak Ramadhan hari pertama. Aku harus terbiasa dengan suara alarm yang begitu memekikkan telinga. Harus terbiasa makan sendiri di dalam kamar kos, tanpa ada suara orang rumah yang memanggil. Tanpa ada tempat bercerita. Walau hanya "hari ini sahur apa?". Oh hati, tolonglah untuk lebih kuat lagi.
Laiknya iman, kekuatan hati yang kumiliki masih mengalami fase farmakokinetika yang cenderung tidak stabil dan memiliki tingkat reaktivitas yang tinggi. Setelah sekian hari Ramadhan terlewati, kembali bisa menerima kebiasaan-kebiasaan baru . Namun, memang benar. Kita adalah sebaik-sebaik penjaga atas bahagia-sedih diri kita sendiri.
"Besok mau ke pasar sama Mama."
"Iya udah dibelikan baju sama Mama."
"Seneng pulkam. Ga sabar makan masakan Mama."
Sisi xenon dan kripton dalam diriku mencuat. Reaktivitasnya begitu tinggi. Kenangan-kenangan selama dua puluh empat tahun ini terkumpul. Saat sedih, segala kenangan dan memori itu dengan rapih akan tersusun. Membentuk lorong waktu yang menyesakkan. Entah atas memori kesedihan, ataupun sebuah kebahagiaan. Ada banyak hal yang perlu disyukuri dari sebuah memori. "Pernah". Itu sudah cukup.
Danau di pelupuk mata sudah menggelayut. Mataku berat. Pikiranku melayang. Otakku memanas memutar segala kejadian. Nafasku melemah. Oh hati, rindu macam apa ini?
Sekeras-kerasnya jiwa, ada titik lemah yang jika tersentuh sedikit saja maka akan pecah. Air mata yang telah mengumpul di kubangan, nafas yang ditahan, jeritan yang berusaha dibungkam. Semuanya keluar. Begitu saja. Memang ada hal-hal yang bisa kita ikhlaskan. Tetapi lukanya masih sangat dalam menganga dan sakitnya susah hilang. Kehilanganmu, misalnya.
Jika tahun ini dan juga tahun-tahun berikutnya tidak akan lagi ada ketupat, tolonglah untuk lebih kuat. Aku mohon. Meski berat, segalanya memang harus dilepaskan. Harus diantarkan. Ada banyak hal lain yang harus kamu kerjakan. Kamu selesaikan, dan kamu wujudkan. Masihkah teringat dalam memori sawar otakmu akan permohonan-permohonan itu? Permohonan yang lembut mengalun, mungkin akan berat untuk dilakukan. Tapi bukankan ini namanya perjuangan?
Sebab, waktu tak akan menghapus yang hati simpan. Siapa berjuang dengan sepenuh hati, tidak akan pulang dengan penyesalan. Meski patah.
Selamat berlebaran, Mah. Aku menukiskannya dengan jemari yang bergemertak, tubuh gigil, dan pipi yang begitu sembab. Aku akan tetap menemanimu. Seperti janjiku.
Semarang, 4 Juni 2019.
Sedang ingin balik ke P.Bun
Namun mungkin tak kujumpai lagi senyum itu.
Minggu, 30 Desember 2018
2018: Trisula Kerelaan
Titik tertinggi itu bernama kerelaan. Me·re·la·kan v memberikan dengan ikhlas hati; melepaskan (menyerahkan) dengan tulus hati. 2018 mungkin adalah puncak jatuh bangun kehidupanku hingga saat ini. Tak menutup kemungkinan tahun-tahun lainnya akan lebih berat. Karena kita tengah menghadapi kesulitan-kesulitan, menampung air mata sebab mempersiapkan hal lain yang lebih besar daripada itu. Lebih susah daripada itu.







