Jumat, 28 Juli 2023

Tahun Terakhir

16.41.00 0 Comments


Di tahun terakhir usia dua puluhan ini

Di sini aku belajar banyak hal, terutama untuk rasa syukur, cukup, tawakal, sabar, dan menerima
Banyak menerima dan penuh syukur nyatanya tidak pernah membuat kita merasa lebih lemah
Rasa menerima dan terus tawakal membuat kita lebih tingan menjalani hidup

Lalu, aku teringat satu pesan penting almh. Mama. Bahwasannya, tidak semua hal bisa kita dapatkan di satu waktu, kan? 

16.31.00 0 Comments

 Semantap-mantapnya aku berusaha merencanakan masa depan,

Pernah aku lalai untuk menempatkan satu ruang untuk ridha

Bahwa mungkin saja hari esok adalah hari yang terjadi di luar kehendak kita

Dan ap yang terjadi di luar perencanaan kita adalah yang terbaik bagi Allah

Senin, 31 Oktober 2022

Perspektif Kedua

06.37.00 4 Comments

 Mungkin deratan pesan berantai kala itu

Ataupun puisi yang tak pernah selesai untuk aku tuliskan membuatmu sedikit tersipu


Katamu, kamu juga punya banyak hal yang lebih hebat dibanding aku

Hahaha aku tahu. Sejak dahulu. Tapi kamunya saja yang baru menyadari.


Katamu bertanya, bolehkah memulai 1 parafrase saja di halamanku ini

Tentu saja. Ini bukan hanya dunia milikku saja, tapi kau juga.


Setelah sekian malam yang gigil terlewati tanpa pelukmu,

Setelah banyak malam gelap sunyi tanpa hadirnya suaramu,

Nyatanya kini kau kembali

Meramu beberapa temu menjadi satu

Menghidupkan kembali malam dan angan yang pupus dan hilang


Ujarmu, kamu memperhatikanku dari jauh

“Masih kulihat sosokmu yang pekerja keras. Yang tak sedikitpun gentar untuk menyerah pada mimpimu.”


“Masih kulihat garis wajahmu yang tegas. Yang bisa memberi keputusan untuk semua anak-anakmu di tempat kerja.”


“Masih kulihat punggungmu yang tegap dan penuh tempaan.”


“Dan juga masih kulihat kasih sayangmu yang begitu tulus dan lembut. Yang banyak memberiku tangkupan doa. Yang tak pernah sekalipun merubah sikapmu kepadaku.”


Banyak lubang yang membuat kita jatuh.

Banyak luka yang menyayat hati dan juga pikiran kita.


Tapi di sudut kota Jogja saat itu, hiruk pikuk kepala menjadi satu. 

Terdiam dan hening. Penuh bisu.

Dalam dekap hangat pelukmu.

Ya, itulah yang selama ini kurindukan.


Katamu, kamu masih hafal di mana letak kedai makanan terenak kesukaan kita

Di pojok jalanan yang ramai, ada sebuah kedai sup terenak

Di pinggir kota, kuah gulai selalu teringat, kan?


Di jalanan yang selalu wajib terlewati

Di tempat kita biasa mengukir mimpi

Di tempat kita pernah menangisi kesulitan hidup bersama

Meski entahlah, untuk siapa bahagiamu kelak

Di tempat kita selalu memusingkan hidup, menerima amorfati, dan berusaha saling menguatkan

Meski kini, kau mungkin jauh lebih kuat menopang lemahnya hidupmu

Dan di setiap sisi potongan kenangan Jogja


Katamu, kamu tak akan pernah lupa.

Rabu, 14 Oktober 2020

01.17.00 0 Comments

do the best, but dont forget to prepare the worst


tujuan hidup seringkali menjadi satu-satunya hal yang membuat aku tetap semangat menyambut pagi. tetap menerima lelah dan peluh, tetap mendengar hujatan, bahkan tetap menerima luka yang dikirimkan bertubi-tubi.


Kesibukan yang sengaja aku susun begitu padat membut aku sedikit melupakan tentang duka yang menyayat. Tentang pengkhianatan yang menerjang. Serta tentang perasaan yang memang tidak pernah disadarinya.


Di antara tumpukan janji yang dibuat, ia paham sekali tentang batasan mampunya ia. Tentang batasan lelahnya ia. Tentang raga yang ternyata memang butuh sedikit saja berjeda.


Barang sedetikpun, jeda yang muncul membuatnya melanglang buana. Pergi mengembala ke dalam pikirannya sendiri. Dia sangat membenci isi kepalanya. Hatinya berusaha selalu menerima, namun kepalanya selalu menolak. Harinya terlihat begitu bahagia, namun lukanya semakin lebar menganga

Minggu, 26 Juli 2020

Kemapanan Jiwa

19.22.00 1 Comments

Manusia dituakan oleh usia
Dan didewasakan oleh keadaan

Such a special date, must be celebrated in all the best possible ways. virtual blow out the candles and HAPPY 26TH BIRTHDAY FOR ME! 💖

pagi ini, saya mendapat pesan yang unik, tidak seperti pesan kebanyakan. pengirimnya pun orang yang unik, tak mau dipandang sama dengan lainnya. usia hanya masalah angka, begitu katanya. 

di balik usia 26 tahun saat ini, mungkin saya sudah lebih dahulu melalui cobaan kehidupan pendewasaan jiwa. keadaan yang tak baik, tak selamanya support dengan apa yang kita inginkan.

ternyata saya menjalani dengan benar bahwa "dunia akan selalu baik-baik saja saat kau amsih dapat melihat wajah ibumu tersenyum".

terlepas dari kesedihan itu, saya bertumbuh. entah bagaimana saya bertemu teman-teman yang dalam jiwa masing-masing memiliki keinginan kuat untuk bertumbuh. utang masa lalu dan juga kenikmatan yang saat ini harus kami terima.

dalam tahun 2020 ini, aku mulai menyederhanakan banyak sekali hal. memperbanyak menerima, melatih kesabaran, tidak terlalu mempedulikan kehidupan orang lain, dan juga banyak membersihkan diri.

di waktu-waktu genting mungkin aku dulu hanya bisa menangis. lalu ibu datang untuk menenangkan. entah dengan pelukan, atau nasihat bijak. lalu, kehidupan tidak selamanya indah seperti dongeng. kesulitan dan kemudahan datang silih berganti. layaknya perjumpaan, perpisahan juga menemani.

saya sudah sering melewati masa di mana saya tidak bisa melakukan apapun. kecuali hanya berserah. saya hampir setiap hari membakar dupa, duduk diam hening di tepi kasur sambil menghadap jendela. ya, saya menemukan kedamaian di sana. menemukan bahwa cinta kasih Allah itu selalu ada. entah lewat sujud kita yang hening, entah saat saya duduk sendiri menepi untuk mendengarkan hati, atau saat kita sedang bekerja dan ingin merasakan peluk-Nya.

saya sudah tidak pernah memaksakan orang untuk tetap ada membersamai saya. karena sepenuhnya bahagia itu tanggung jawab saya. 

saya sudah tidak pernah memaksakan bahwa masalah percintaan adalah hal terurgensi untuk saat ini. mengingat banyak teman sudah menikah.

saya banyak banyak belajar. bahwa setiap orang memiliki zona waktunya sendiri-sendiri. bukan nelihat orang lain sebagai titik acu. 

menanggil hati kecil sendiri, mendengarkan rintihan tiap pagi, dan mengevaluasi di malam hari. hari ini, apa yang sudah saya bagi? itu adalah pertanyaan sederhana yang selalu saya lakukan saat ini.

terlalu banyak tahu tentang orang lain nyatanya tak membuat saya lebih baik. saya hanya memberikan saran untuk mereka yang meminta. memberikan waktu saya hanya untuk mereka yang mencari. 

saya tidak keberatan apabila saya ditolak, disisihkan, atau bahkan dibenci karena hal yang menurut saya bukanlah salah saya. ditolak karena saya lahir di Kalimantan misalnya.

memang saya dan kamu tidak pernah bisa memilih lahir di mana dan di keluarga seperti apa. kita hanya bisa merencanakan masa depan, yang sekali lagi. kita belum tentu tahu bagaimana.

saya merasa lebih baik untuk melebihkan rasa cinta kasih sayang dan berbagi emamng pada orang-orang yang benar mengharapkan kita. 

tidak tahu, doa dan kebaikan mana yang dulu tidak sengaja saya lakukan yang membuat saya sampai ada di titik saat ini. jika membandingkan dengan orang lain, akan sangat jauh. ada teman yang sudah jadi manager, dosen, sudah berkeluarga, usahanya sukses, dan lain-lain.

saya hanya melihat diri saya. bagaimana dulu saya sempat tertinggal di skripsi karena saya dikhianati. bagaimana saya pernah benar-benar terpuruk dan tidak tahu arah hidup karena saya kehilangan orang yang paling saya cintai.

lalu, setelah bertemu dengan kawan untuk tumbuh bersama, saya menemukan diri saya yang baru. melihat satu hal dari banyak sisi. 

saya memahami juga, bahwa kita memiliki banyak tubuh. misal tubuh fisik dan tubuh jiwa. saya menyebutnya soul. entah saat ini saya begitu mencintai diri saya itu. semiga dengan begitu, banyak orang yang melihat begitu besarnya cinta saya pada diri sendiri, jadi ikut-ikutan mencintai saya.

saya berterima kasih untuk yang pernah datang melukai. tidak sepenuhnya salahmu. saya yang terlalu berharap atas dirimu.

saya berterima kasih untuk masalah yang datang pada saya. jika ia tak pernah hadir, apakah saya bisa tumbuh dan berkembang sampai seperti ini?

saya juga berterima kasih kepada kamu. telah selalu ada membersamai saya sampai saat ini. saya pun tak terlalu ambil pusing jika kamu tidak selalu bisa menemani saya. entah menemani keluarga, pasangan, atau siapapun itu. kita saling ditemukan bukan karena satu alasan saja. ada banyak hal yang harus kita selesaikan.

semoga, jika kelak Ia mengizinkan saya untuk hadir kembali, maka izinkan saya dipertemukan kembali dengan orang yang mencintai saya.

terutama, Ibu saya.

Minggu, 05 Juli 2020

Mah, Selamat Ulang Tahun! Sampaikan Salamku untuk Tuhan!

01.39.00 0 Comments

Mah, selamat mengulang tanggal. Tanggal di mana rasa bahagia itu pernah hadir. Di tengah hangatnya keluarga, di mana dua orang anak kembar dilahirkan. Menjalani hari-hari bahagia yang mungkin sangat melelahkan, sebelum pada akhirnya salah satunya berpulang.

Terima kasih telah menghadirkan banyak sekali cinta dalam hidup. Menunjukkan bahwa kehidupan ini tidak melulu melihat sesuatu yang menyilaukan. Laiknya waktu di bumi, kita juga harus merasakan gelap agar tahu apa itu terang. Pun juga kita harus merasakan terang, agar tahu apa itu gelap.

Yang aku tahu, James Prescott Joule menjelaskan kepada kita semua bahwa energy itu tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. energi dapat diubah menjadi bentuk lainnya, ataupun energi tidak mengenal ruang dan waktu.

Merasa dicintai secara penuh olehmu itu ternyata seluar biasa ini.

Senin, 30 Desember 2019

2019: Benar, Aku Sungguh Sudah Ikhlas

21.26.00 0 Comments

Tahun tak lain hanyalah deretan angka. Untuk memudahkan perhitungan terhadap waktu. Untuk memudahkan mengingat periode kejadian. Setelah di 2018 kita belajar akan suatu hal, maka di 2019 lebih memantapkan. Sungguh. Dari yang awal ragu untuk melepaskan akan semakin yakin untuk mengikhlaskan. Dari yang awalnya takut untuk pergi, menjadi semakin berani untuk meninggalkan. Dari yang awalnya suasah melupakan, menjadi semakin ikhlas merelakan.

Memang, di tahun ini kita semakin menyadari bahwa memang yang bukan milik kita tidak akan menjadi milik kita. Pekerjaan, tempat kuliah, cita-cita, bahkan perihal seseorang. Namun sebaliknya, akan semakin diarahkan di mana dan siapa saja yang akan menjadi milik kita. Sebahagia itu. Merelakan semua yang terjadi sesuai jalan Tuhan.

Terima kasih, 2019. Sungguh, aku sudah sangat ikhlas melepas. Aku sudah sangat rela pergi. Dengan ringan hati memaafkan. Ingatan akan tetap ada. Potongan cerita akan selalu ada. Setidaknya akan menjadi makna, akan menjadi apa kita selanjutnya. 

Semoga saja, segala lelah terbayar esok. Jika perlu, beristirahatlah. Tidak ada yang terlambat. Jangan tergesa. Kita semua sesuai porsinya. Terima kasih diri, sudah cukup kuat dan hebat sampai hari ini. 

Jumat, 06 September 2019

Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari

02.34.00 0 Comments
"Dek sudah pulang?"
"Iya ini mau ada acara di rumah."
"Loh acara apa?"
"Kirim doa untuk Mama."

Ternyata"jalani saja" membuat saya sudah berjalan sejauh ini. Tiga ratus enam puluh lima hari dengan berbagai macam cerita. Resign industri - gagal PNS - gagal kerja di Kalimantan - kerja di apotek - keterima ASDOS UMY - resign apotek - keterima ASDOS UAD - kuliah S2. Bukan saya yang sangathebat, tapi doa Mama dan Ayah saya yang menembus langit. Perjalanan ini sungguh memompa jantung. Melatih nafas, dan tentu saja menghabiskan banyak sekali air mata.




Memang merelakan adalah jalan terbaik untuk merayakan kepergian orang yang dicinta. Jatuhlah pada cinta dan bangunlah sebagai manusia yang berjalan di atas keyakinannya sendiri. Berlututlah pada keagungan. Bentangkanlah sayap saat seseorang menjatuhkanmu dari ketinggian—terbanglah seperti burung mencintai angin. Berjalanlah seperti seorang ayah yang menuntun lengan putrinya. Berbahagialah seperti anak-anak. Waspadalah seperti pertama kali belajar berjalan. Dengarkanlah nyanyian angin. Jadilah air hujan yang membawa kehidupan baru bagi tanah-tanah yang kering. Jadilah matahari yang berani terbit dan siap untuk tenggelam. Jadilah seseorang yang membuat dunia jadi berbeda. Jadilah dirimu sendiri!

Banyak sekali ketakutan yang dihadapi. Sendiri. Saat terbiasa bersamamu. Saat menganggap semua akan baik-baik saja selama ada Mama. Namun, masalah seberat apapun kini harus berani aku hadapi sendiri. Membantu menopang dan menyelesaikan masalah Adik, sebagai anak tertua. Serta terus menjaga dan memberikan semangat untuk Ayah. Harta berharga yang kini tertinggal.

Mama, rasa takut juga selalu membuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, aku sering kali tidak tahu kalau hampir semua yang aku takuti hanyalah sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi. Aku seringkali gentar oleh sesuatu yang boleh jadi ada, boleh jadi tidak. Hanya mereka-reka, lantas menguntai ketakutan itu, bahkan aku bisa dengan tega menciptakan sendiri rasa takut itu, menjadikannya tameng untuk tidak mau berubah.

Jumat, 16 Agustus 2019

10.39.00 0 Comments
malam ini, hatiku jatuh sejatuh-jatuhnya
namun hancur sehancur-hancurnya
bagaimana bisa, kita jatuh sekaligus luka di dalam satu waktu?

nampaknya sering
berharap pada suatu masa
jatuh pada suatu bayang
yang sebenarnya dia tak pernah ingin bergerak mendekat
menoleh pun enggan

Kamis, 08 Agustus 2019

07.36.00 0 Comments


Nggak semuanya harus dilepaskan kan?
Bahkan sampai saat ini, semuanya masih dibawa kan? Dan semuanya masih baik-baik aja. Kamu ingat? Dan bahkan ternyata menjadi lebih baik :)
Ada banyak cerita dulu yang sudah terlewati untuk bisa jadi seperti sekarang, kan? 

Selasa, 06 Agustus 2019

10.42.00 0 Comments
kita adalah sepasang luka yang saling kehilangan. kemudian saling menemukan. dan berakhir pada saling mengobati. dan esok, kita akan menjadi saling dalam saling lainnya. luka parut dan carut-marut masing-masing yang saling bertemu dengan ketidaksempurnaan lainnya. laiknya planet, berputar pada sumbunya masing-masing. akibat gravitasi rasa ketertarikan, rasa saling mengasihi, dan rasa saling memiliki, masing-masing dari kita bertabrakan. hancur. melebur menjadi satu. aku dan kamu untuk menjadi kita. kita bertemu bukan hanya karena aku menerima segala yang ada padamu, namun aku lebih kepada mencintai semua kurangnya kamu.


10.36.00 0 Comments
janji yuk sama diri sendiri ga akan sedih gini lagi. ga akan kecewa dan nyalahin diri sendiri lagi gini. ga akan ngingat2 hal ini lagi sehingga bikin kamu sedih. siap?

Senin, 03 Juni 2019

Tidak Ada Ketupat Ramadhan Ini

20.50.00 4 Comments

Salah satu alasan untuk pulang ke rumah adalah memanggil nostalgia-nostalgia yang mungkin akan terlupa. Waktu terbaik untuk pulang adalah saat Lebaran. Semua berkumpul. Semua berbahagia. Namun bukan untuk aku. Kita akan mengalami hal-hal yang sama berkali-kali yang lama kelamaan menjadi kebiasaan. Setelah kita berhasil melewati fase "pertama kali". Ketakutan pertama kali naik pesawat sendirian, ketakutan pertama kali naik bus tanpa ac sendirian, dan ketakutan lain. Dan tahun ini, adalah pertama kali yang tak akan terlupa dalam kehidupan. Pertama kali lebaran tidak ada ketupat. Bukan. Bukan ketupat saja yang aku rindukan. Ada suara gaduh pagi-pagi yang kurindu, aroma sambel goreng kesukaan yang sedang mendidih, bau daging rebus yang begitu empuk, hingga suara lembut yang kini tak lagi kudengar. Kerinduan-kerinduan itu tidak hanya terjadi sekali. Tidak. Itu akan terjadi selamanya dalam hidupku. Selamanya. Sepanjang hidupku.

Penguatan akan rasa dan hati yang ternyata terlaku rapuh sebenarnya dimulai sejak Ramadhan hari pertama. Aku harus terbiasa dengan suara alarm yang begitu memekikkan telinga. Harus terbiasa makan sendiri di dalam kamar kos, tanpa ada suara orang rumah yang memanggil. Tanpa ada tempat bercerita. Walau hanya "hari ini sahur apa?". Oh hati, tolonglah untuk lebih kuat lagi.

Laiknya iman, kekuatan hati yang kumiliki masih mengalami fase farmakokinetika yang cenderung tidak stabil dan memiliki tingkat reaktivitas yang tinggi. Setelah sekian hari Ramadhan terlewati, kembali bisa menerima kebiasaan-kebiasaan baru . Namun, memang benar. Kita adalah sebaik-sebaik penjaga atas bahagia-sedih diri kita sendiri.

"Besok mau ke pasar sama Mama."
"Iya udah dibelikan baju sama Mama."
"Seneng pulkam. Ga sabar makan masakan Mama."

Sisi xenon dan kripton dalam diriku mencuat. Reaktivitasnya begitu tinggi. Kenangan-kenangan selama dua puluh empat tahun ini terkumpul. Saat sedih, segala kenangan dan memori itu dengan rapih akan tersusun. Membentuk lorong waktu yang menyesakkan. Entah atas memori kesedihan, ataupun sebuah kebahagiaan. Ada banyak hal yang perlu disyukuri dari sebuah memori. "Pernah". Itu sudah cukup.

Danau di pelupuk mata sudah menggelayut. Mataku berat. Pikiranku melayang. Otakku memanas memutar segala kejadian. Nafasku melemah. Oh hati, rindu macam apa ini?

Sekeras-kerasnya jiwa, ada titik lemah yang jika tersentuh sedikit saja maka akan pecah. Air mata yang telah mengumpul di kubangan, nafas yang ditahan, jeritan yang berusaha dibungkam. Semuanya keluar. Begitu saja. Memang ada hal-hal yang bisa kita ikhlaskan. Tetapi lukanya masih sangat dalam menganga dan sakitnya susah hilang. Kehilanganmu, misalnya.

Jika tahun ini dan juga tahun-tahun berikutnya tidak akan lagi ada ketupat, tolonglah untuk lebih kuat. Aku mohon. Meski berat, segalanya memang harus dilepaskan. Harus diantarkan. Ada banyak hal lain yang harus kamu kerjakan. Kamu selesaikan, dan kamu wujudkan. Masihkah teringat dalam memori sawar otakmu akan permohonan-permohonan itu? Permohonan yang lembut mengalun, mungkin akan berat untuk dilakukan. Tapi bukankan ini namanya perjuangan?

Sebab, waktu tak akan menghapus yang hati simpan. Siapa berjuang dengan sepenuh hati, tidak akan pulang dengan penyesalan. Meski patah.

Selamat berlebaran, Mah. Aku menukiskannya dengan jemari yang bergemertak, tubuh gigil, dan pipi yang begitu sembab. Aku akan tetap menemanimu. Seperti janjiku.

Semarang, 4 Juni 2019.
Sedang ingin balik ke P.Bun
Namun mungkin tak kujumpai lagi senyum itu.

Minggu, 30 Desember 2018

2018: Trisula Kerelaan

09.37.00 0 Comments

Titik tertinggi itu bernama kerelaan. Me·re·la·kan v memberikan dengan ikhlas hati; melepaskan (menyerahkan) dengan tulus hati. 2018 mungkin adalah puncak jatuh bangun kehidupanku hingga saat ini. Tak menutup kemungkinan tahun-tahun lainnya akan lebih berat. Karena kita tengah menghadapi kesulitan-kesulitan, menampung air mata sebab mempersiapkan hal lain yang lebih besar daripada itu. Lebih susah daripada itu.

Melepaskan Pekerjaan
Menjadi seorang fresh graduate dengan obsesi tinggi dan mimpi yang telah tersusun rapi seringkali membuat kita menjadi seseorang yang idealis. Ingin kerja di sini dan di sini. Sebagai ini atau ini. Dan banyak sekali standar tinggi yang ditetapkan. Mendapatkan pekerjaan sesuai keinginan, yang membuat kita bahagia adalah sebuah mimpi yang menjadi nyata. Pemanasan ujian besar sudah dilakukan sejak awal kerja. Lewat kerja 3 shift, saya belajar bagaimana tetap terjaga di tengah malam, bagaimana tak pernah terlupa untuk sholat malam, bagaimana tetap berfikir cepat dan rasional di tengah malam, dan juga tepat waktu untuk Sholat Subuh. Lewat kerja team saya belajar bagaimana komunikasi, mencari penyelesaian masalah secara tepat dan cepat, bagaimana belajar mendengar keluhan, bagaimana memberi jarak antara urusan pribadi dan urusan pekerjaan. Lewat pekerjaan ini pula bagaimana saya belajar menjadi seorang pemimpin untuk membawa tim, untuk memberikan contoh, tanpa melihat bagaimana fisik yang dimiliki.

Sabtu, 22 Desember 2018

05.07.00 0 Comments

Ada wanita, yang tetap saja memelihara luka-lukanya demi seseorang yang dia suka. Ada banyak orang di luar sana yang menungguinya, namun ia tak pernah ingin untuk memilikinya. Diselanya darah yang menetes sendiri, ditutupnya luka atas harap yang tak terbalas, ditahannya penuh lirih perasaan yang tak kunjung berbalas itu. Dia menikmati lukanya, kesedihannya, serta penantiannya yang tak kunjung terbalas. Dia, wanita yang mencintai luka-lukanya.