yang
aku takut bukan semata mengenai perpisahan, namun lebih kepada
pertemuan. sebab, di antara pertemuan yang kedua, ketiga, hingga
pertemuan yang tak kuasa lagi kuhitung dengan anak tangga ada rindu dan
janji untuk bertemu terhadap pertemuan pertama. ataupun
pertemuan-pertemuan sebelumnya.
seperti
tak ada baris kata yang mengikrar di antara gendang telinga manusia
yang sudah cukup budeg mendengar senyawa obat, resep, bahkan cacian
selama salah mengartikan kehidupan bagi nyawa orang lain, ada usaha yang
tak pernah terdengar. tak ayal ia seperti suatu kebiasaan. yang telah
menjadi cara dalam suatu siklus kehidupan: bertemu untuk kembali
berpisah.
